Dahsyat! Hal ini Potensial Kontribusi Jika Turki Jadi Anggota Penuh BRICS

JAKARTA – Turki secara resmi telah terjadi mengajukan permintaan untuk bergabung dengan aliansi BRICS. Jika disetujui, keanggotaan Turki akan menjadi kabar baik bagi BRICS mengingat besarnya kegiatan ekonomi dan juga pengaruh negara yang disebutkan pada kancah internasional.
Dana Moneter Internasional (IMF) pada tahun 2023 menempatkan Turki sebagai perekonomian terbesar ke-17 di tempat dunia. Sistem Domestik Bruto (PDB) negara yang disebutkan pada tahun lalu diperkirakan berjumlah sedikit pada menghadapi USD1 triliun atau sekitar Rp15.500 triliun (kurs Rp15.500 per USD).
Mengutip Sputnikglobe, Akhir Pekan (8/9/2024), Bank Planet menyebutkan Turki menunjukkan tingkat pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto riil yang stabil (rata-rata 5,4%) dari tahun 2002 hingga 2022. Negara ini juga sukses menurunkan tingkat kemiskinan dari di dalam menghadapi 20% pada tahun 2007 menjadi 7,6% pada tahun 2021.
Salah satu kemungkinan sumbangan penting lainnya Turki bagi BRICS adalah lokasi geografisnya yang dimaksud strategis. Turki tepat berada dalam perbatasan antara Eropa juga Asia, juga memegang kendali berhadapan dengan Selat Bosporus serta Dardanelles yang menghubungkan Laut Hitam serta Laut Mediterania. Hal ini menjadikan Turki sebagai pusat logistik alami untuk memindahkan barang antara Bumi Selatan kemudian Bumi Utara.
Selain itu, pengaruh besar Ankara pada urusan Timur Tengah, yang tersebut telah lama lama menjadi salah satu pemain utama, juga pengaruhnya di dalam benua Afrika juga dapat menguntungkan Turki yang dimaksud menjadi anggota BRICS di dalam masa depan.
Pada pada waktu yang dimaksud sama, akses yang digunakan tambahan baik ke bursa negara-negara anggota BRICS dapat membantu Turki mengatasi permasalahan ekonominya seperti misalnya, kenaikan harga yang mana merajalela yang dimaksud sekarang ini masih menjadi perasaan khawatir Ankara.
Industri Turki juga diyakini akan memperoleh keuntungan dari keanggotaannya di dalam BRICS. Diketahui, Bank Bumi mencatatkan data bahwa ketergantungan bidang Turki pada “proses intensif karbon serta substansi bakar fosil” memicu tantangan pada kerja sebanding negara itu dengan Uni Eropa (UE). Pasalnya, UE sedang berfokus pada teknologi hijau kemudian inovasi iklim, yang tak menguntungkan status bidang Turki.
Sementara itu, anggota BRICS lebih banyak fleksibel dan juga tidak ada ingin mengambil risiko menghancurkan perekonomian mereka demi rencana lingkungan hidup. Dengan demikian, negara-negara anggota BRICS mungkin saja dapat menjadi mitra kegiatan bisnis yang mana lebih banyak baik bagi Turki dibandingkan Uni Eropa.






