otoritas Diminta Perkuat Kemandirian serta Ketahanan Pangan

JAKARTA – eksekutif Indonesia diminta meningkatkan kekuatan ketahanan pangan . Sebab 70% konflik lalu peperangan antarnegara yang tersebut terjadi dalam dunia ketika ini bersumber dari isu energi juga pangan.
Hal itu disampaikan Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo ketika diskusi terkait “Pembangunan Bidang Pertanian Indonesia” yang diselenggarakan bersatu dengan Wadah Rektor Indonesia, Akademi Keilmuan Pengetahuan Indonesia, Asosiasi Keilmuan Politik Indonesia, FKPPI, dan juga HIPMI, kemarin.
”Kita semua tentu menyadari pangan sebagai keperluan dasar manusia, merupakan komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik, sosial, kemudian keamanan nasional,” ujarnya, Hari Sabtu (14/9/2024).
Menurut Pontjo, ketahanan pangan telah seharusnya menjadi kepentingan nasional utama yang digunakan harus terus diperjuangkan. Terlebih lantaran Rencana Sustainable Development Goals (SDGs) yang mana merupakan komitmen global juga Indonesia menetapkan salah satu tujuannya pada 2030 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan juga nutrisi yang digunakan tambahan baik lalu mengupayakan pertanian berkelanjutan.
Berdasarkan penilaian Global Food Security Index (GFSI) dari The Economist Intelligence Unit (EIU) pada Desember 2022, kata Pontjo, ketahanan pangan Indonesia mendapatkan skor 60,2 yang tersebut berada di area kedudukan 63 dari 113 negara. ”Ketersediaan pangan Indonesia dinilai kurang baik dengan skor 50,9. Keadaan ini tentu masih memprihatinkan,” ucapnya.
Ketua Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti ini menyebut, konsep swasembada pangan dipandang sebagai salah satu cara efektif pada mencapai ketahanan pangan suatu negara, sehingga negara yang dimaksud mempunyai kontrol yang dimaksud besar terhadap pasokan pangannya lalu tak tergantung pada lingkungan ekonomi internasional.
“Potensi sektor pertanian yang tersebut besar, Indonesia berpeluang untuk swasembada pangan. Sayangnya, peluang besar ini belum diberdayakan secara optimal. Pembangunan sektor pertanian Indonesia hingga pada waktu ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal apabila dilihat dari tingkat kesejahteraan petani, menjaga ketahanan pangan, kemudian kontribusinya pada pendapatan nasional,” paparnya.
Hasil Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kondisi pertanian di area Indonesia tidaklah banyak berubah selama 10 tahun terakhir, juga masih menghadapi berbagai kesulitan serta tantangan, antara lain, masih didominasi tenaga kerja tua, minim menggunakan teknologi, penyusutan lahan pertanian, kerusakan lingkungan dan juga pembaharuan iklim. Termasuk akses petani terhadap permodalan, terkait keterpaduan antar sektor atau koordinasi juga sinergi antarsektor.
”Menghadapi berbagai kesulitan tersebut, maka penerapan sains kemudian teknologi yang tersebut paling produktif tetapi ramah lingkungan pada perkembangan sektor pertanian merupakan suatu keniscayaan,” katanya.
Penerapan sains serta teknologi pertanian memungkinkan para petani meningkatkan efisiensi produksi, menurunkan beban kerja manual, dan juga meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Selain itu, teknologi informasi serta komunikasi juga memainkan peran penting di menghubungkan petani dengan informasi lingkungan ekonomi juga memfasilitasi akses ke wadah belanja online, yang dimaksud berkontribusi pada peningkatan pemasaran lalu perdagangan produk-produk pertanian.
”Meskipun ada komitmen pemerintah untuk penerapan teknologi pertanian, namun mekanisasi lalu adopsi teknologi masih cukup rendah, dengan 87,59% rumah tangga petani masih memilih untuk menggunakan metode konvensional di bertani,” ujarnya.




