Hadiri Diskusi di dalam DPP PKB, Cak Imin-Gita Wirjawan Beri Pendampingan ke Anggota Fraksi

JAKARTA – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ) mengadakan diskusi kebangsaan. Diskusi yang disebutkan untuk meluruskan arah perjuangan kebijakan pemerintah seluruh pengurus juga kadernya.
Hadir pada diskusi yang dimaksud mantan Menteri Perdagangan sekaligus host dari podcast Endgame Gita Wirjawan. Acara yang dijalankan hybrid yang dimaksud dihadiri dengan segera oleh Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar beserta seluruh jajaran pengurus DPP PKB, Selasa, 17 September 2024.
“Pertama saya bersyukur serta bahagia berhadapan dengan diperkenalkan Pak Gita Wirjawan. Bagi saya suprise dan juga membahagiakan. Teman lama yang telah lama sekali ingin saya undang, tapi bukan berkesempatan enggak nyambung-nyambung. Kemarin saya WA nyambung,” kata Cak Imin di tempat Kantor DPP PKB, Rabu (18/9/2024).
Cak Imin mengaku, senang mampu berdiskusi dengan segera dengan Gita. Cak Imin berharap setiap materi yang dipaparkan dapat menjadi bekal seluruh pengurus dan juga anggota Fraksi PKB lima tahun ke depan. “Terima kasih Pak Gita. Senang sekali, saya bilang ke beliau tolong kasih briefing kami sebab kami sedang semangat untuk mencoba mewarnai lima tahun yang dimaksud akan datang,” ungkapnya.
“Kita juga sedang mencoba melangkah supaya benar. Saya bilang ke Pak Gita supaya kita bisa jadi tambahan baik lagi. Insya Allah akan tambahan baik lagi,” sambung Cak Imin.
Diskusi berjalan bergerak serta komunikatif. Sejumlah kontestan begitu antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan untuk Gita terkait ekonomi, hukum, hingga terkait peran partai politik.
“Mungkin ujungnya yang dimaksud menjadi benang merah dari seluruh pertanyaan ini ada buku yang ditulis oleh James Robinson yang tersebut mendeskripsikan bagaimana kita menjadi keseimbangan antara kekuasaan dengan warga sipil. Itu cuma bisa saja seimbang dengan penegakan hukum. Kalau ada penegakan hukum, yang dimaksud seimbang antara rakyat sipil dengan kekuasaan, sehingga kekuasaan itu tiada terlalu despotik (lalim),” kata Gita.
“Itu hanya sekali dengan penegakan hukum, lalu kalau ada penegakan hukum itu akan terjadi aktualisasi nilai yang digunakan nyambung dengan teknologi, ekonomi, spiritual, filsafat, budaya, sosial juga lain-lain. Nah, pertanyaanya adalah, kita mau nggak menjadi peradaban yang digunakan keren? Multiple choice, yes or no. Kalau yes jelas apa yang digunakan harus kita lakukan,” sambung Gita.





