Prabowo Sempat Ramai Dikabarkan akan Naikkan Rasio Utang 50 Persen dari PDB, Faisal Basri: Jangan Main-Main
Jakarta – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri, menyalahkan presiden terpilih Prabowo Subianto yang sempat sibuk dikabarkan akan segera meninggikan rasio utang pemerintah dari 39 bermetamorfosis menjadi 50 persen dari Barang Domestik Bruto (PDB). Menurut dia, langkah itu merupakan sinyal buruk bagi pemerintahan lima tahun mendatang.
“Itu sinyal yang jelek semua, belum apa-apa sudah ada ngegas (berutang),” ujar Faisal dalam kawasan Kuningan, Ibukota Indonesia Selatan, Selasa, 16 Juli 2024.
Alih-alih tancap gas meninggikan utang, Faisal menafsirkan Prabowo seharusnya memikirkan strategi meningkatkan pendapatan negara kemudian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Bila rasio utang naik berubah menjadi 50 persen PDB, beliau mengungkapkan pemerintah harus merevisi Undang-undang Keuangan Negara. Beleid itu mengatur batas maksimal rasio utang negara sebesar 60 persen PDB.
Pengajar Fakultas Sektor Bisnis Universitas Negara Indonesia itu tak sependapat rasio utang ketika ini yang digunakan berada di bawah 40 persen masih aman. Menurut dia, bilangan itu merupakan standar bagi negara maju, yang tersebut miliki rasio pajak (tax ratio) membesar 30 persen. Sementara di Indonesia, rasio pajak masih rendah, yakni sekitar 10 persen. “Kalau tax ratio-nya flat bahkan turun terus, kan jadi berat,” kata dia.
Bila rasio utang pemerintah bermetamorfosis menjadi 50 persen PDB, Faisal memaparkan hal itu akan berdampak ke defisit Anggaran Pendapatan juga Belanja Negara (APBN). Dengan rasio utang itu, beliau memprediksi defisit anggaran akan berada pada berhadapan dengan 3 persen setiap tahun. “Jangan main-main, jangan ngegas terus,” kata dia, mewanti-wanti.
Presiden terpilih Prabowo Subianto akan meningkatkan rasio utang terhadap Pendapatan Domestik Bruto hingga 50 persen, asalkan pemerintahannya dapat meningkatkan pendapatan pajak, demikian dilaporkan Financial Times mengutip adik sekaligus salah satu penasihat terdekatnya, Hashim Djojohadikusumo.
Hashim memaparkan terhadap Financial Times pada sebuah wawancara ke London bahwa Negara Indonesia dapat mempertahankan peringkat kredit layak penanaman modal meskipun rasio utang terhadap hasil domestik bruto (PDB) naik hingga 50 persen. “Idenya adalah untuk meningkatkan pendapatan kemudian meningkatkan tingkat utang,” kata Hashim seperti diambil Reuters dari artikel tersebut, Kamis, 11 Juli 2024.
Namun pernyataan itu dibantah Sufmi Dasco Ahmad. Ketua Tim Gugus Pekerjaan Sinkronisasi Prabowo itu mengatakan, pemerintahan mendatang akan mempertahankan status quo pada rasio utang terhadap PDB. Dasco juga mengungkapkan pemerintahan baru akan menyimpan defisit fiskal ke bawah batas 3 persen PDB. “Kebijakan fiskal akan digunakan sebagai alat untuk mendongkrak pembangunan ekonomi swasta,” kata Dasco terhadap Reuters.
Artikel ini disadur dari Prabowo Sempat Ramai Dikabarkan akan Naikkan Rasio Utang 50 Persen dari PDB, Faisal Basri: Jangan Main-Main





